I’tikaf Seperti Rasulullah

Di penghujung Ramadhan, masjid justru makin padat. Ribuan ummat Islam berlomba mengejar malam penuh kemuliaan ‘Lailatul Qadr’ dengan cara beritikaf, atau berdiam diri di masjid. Lalu bagaimana i’tikafnya Rasulullah? Apa yang beliau contohkan?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah panutan kita dalam segala hal. Baik dalam ibadah, budi pekerti, dan ketaqwaannya. Tak terkecuali dalam hal i’tikaf. Kita wajib berupaya mencontoh i’tikafnya Rasulullah. Berikut penjelasannya.
I’tikaf secara bahasa berarti tinggal dan menetap di suatu tempat dengan tujuan tertentu. Sedang dalam istilah fiqih, i’tikaf adalah tinggal atau menetap di masid dalam waktu tertentu untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pendakwah kondang Ustadz Adi Hidayat mengatakan pada dasarnya hukum i’tikaf adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Hukum ini berlaku bagi setiap muslim dan muslimah yang memiliki keluangan dalam menunaikannya sesuai dengan ketentuan dan syaratnya. Sedangkan hukum i’tikaf adalah wajib bagi yang telah bernadzar untuk ber-i’tikaf.
Ustadz yang telah menempuh pendidikan agama di Libya ini kemudian menjelaskan bahwa hal yang ditekankan dalam i’tikaf adalah tingkat kefokusan kita untuk beribadah dan mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Makna taqarrub adalah mendekatkan diri kepada dengan beragam rangkaian ibadah. Di antaranya sholat, berdzikir, membaca Al-Quran.
“Supaya Anda bisa memfokuskan diri untuk kepentingan ibadah saja. Poinnya adalah Anda ke masjid supaya fokus. Ini juga dapat memacu diri untuk berlomba-lomba dalam kebaikan,” paparnya dalam sebuah ceramah.
Keutamaan i’tikaf telah disebutkan oleh banyak hadits. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata,” Apabila telah masuk hari kesepuluh, yakni sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, Rasulullah mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam-malam tersebut serta membangunkan istri-istrinya (Muttafaq Alaihi).
Makna dari ‘mengencangkan kain sarungnya’ adalah lebih tekun beribadah, mencurahkan waktu untuk beribadah dan bersungguh-sungguh di dalamya. Kemudian yang dimaksud ‘menghidupkan malamnya’ yakni menghidupkan seluruh malam dengan begadang untuk melakukan sholat dan lainnya. ‘Membangunkan keluarganya’ yakni membangunkan mereka dari tidur untuk beribadah dan sholat.
Haruskah I’tikaf di Masjid?
Jumhur (mayoritas) fuqaha’ berpendapat bahwa tempat i’tikaf itu, baik bagi laki-laki maupun kaum perempuan, haruslah di dalam masjid. Hal ini didasarkan pada hadis shahih yang diriwayatkan al Bukhariy dan Muslim yang menyebutkan bahwa istri-istri Rasulullah senantiasa ber’itikaf di masjid.
Tetapi fuqaha’ Hanafiyah berpendapat, bahwa bagi perempuan i’tikaf cukup dilakukan di rumah saja, yaitu di tempat yang memang dikhususkan untuk sholat. Hal ini didasarkan pada pemahaman tekstual hadis shahih yang menyatakan bahwa sebaik-baik sholat bagi perempuan adalah di dalam rumah.
Rasulullah bersabda yang maknanya, “Jangan kamu larang perempuan untuk pergi ke masjid, tetapi rumah mereka lebih baik bagi mereka” (HR Ahmad dan Abu Dawud dan Abu Hurairah), dan “Sebaik-baik masjid bagi kaum perempuan adalah rumah mereka” (HR. Ahmad dari Ummu Salamah).
Syarat I’tikaf bagi Perempuan
Ustadz Adi menjelaskan bahwa bagi laki-laki umumnya tidak ada persoalan terkait tempat i’tikaf. Tapi untuk perempuan setidaknya ada tiga syarat yang melekat jika ingin ber-i’tikaf di masjid. Pertama, terbebas dari fitnah.
“Jangan sampai misal suaminya di rumah, istrinya ke masjid. Harus ada mahrom yang sekiranya mendampingi, atau teman-teman yang sekiranya bisa memberikan rasa aman. Syarat yang pertama ini (terbebas dari fitnah) juga termasuk dalam hal pakaian, yakni tidak boleh menampilkan aurat,” ujarnya.
Kedua, aman dari segi tempat. Artinya harus ada tempat khusus untuk perempuan, dan tidak bercampur (ikhtilat) antara laki-laki dan perempuan. Wajib ada pembatas tertentu yang membuat para perempuan tidak nampak oleh laki-laki.
Ketiga, tidak adanya kewajiban di rumah yang berlaku khusus untuk perempuan. Tidak boleh terjadi demi i’tikaf lalu mengganggu tugas pokoknya. Misal dalam memberi perhatian anak yang masih harus disusui dan dirawat.
Membawa Aturan Allah Selama di Masjid
Beradab di masjid sangat ditekankan. Mulai dari masuk masjid dengan melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu dan berdoa, melaksanakan tahiyatul masjid, tidak mengganggu ibadah orang lain, dan sebagainya. Semua itu wajib ditekankan selama menjalankan i’tikaf di masjid.
“Semua yang dilakukan di masjid sejak anda membuka pintu masjid, dan berdoa masuk masjid, Maka terapkan aturan-aturan Allah, adab sebagaimana mestinya tatkala memasuki dan berada di masjid. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dan semua yang boleh dilakukan adalah yang memotivasi kita untuk fokus ibadah,” tutup ustadz pendiri Quantum Akhyar Institute tersebut.

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *